Senja di Taman Kolam | Cerpen

SATU

Akan selalu ada wanita-wanita yang menangis ketika menikmati senja di taman ini.  menitikkan air mata ketika cahaya merah terlihat dari hamparan penuh rerumputan, pohon-pohon, dan sebuah danau kecil di taman kolam, di sudut kota Batam. Waktu-waktu berjalan, malam, pagi, siang, sore, dan tentu saja, senja. Aku juga akan membagi cerita ini menjadi lima bagian sebagaimana waktu, karena di antara wanita-wanita yang menangis itu aku akan melihatmu, duduk bersandar di bangku tepi danau, dengan pakaian yang paling kusut dan mata yang kosong, menatap kosong pada titik tempat terbenamnya matahari. Semua wanita di taman kolam mengenalmu, wanita tanpa nama yang tak pernah absen menikmati terbenamnya matahari matahari,wanita yang tak henti-hentinya meneteskan air mata di antara kerikil dan rerumputan.
Kamu pasti datang dengan kemeja putih itu, ditambah syal merah muda melingkar di leher, dan rok panjang ala gadis Eropa pada umumnya. Kamu datang jauh sebelum para wanita-wanita itu hadir bersama pasangannya, lebih dulu menemani kicau burung di hamparan bunga-bunga, terkadang kamu memetiknya, dan melemparkannya ke kolam dan pada saat itu munculah   ikan-ikan yang mengiranya sebagai makanan, atau menemani sepasang angsa yang tak jemu mengelilingi danau yang cukup luas, kamu pasti membayangkan kita seperti mereka, hidup bersama dengan bebas, menikmati ketenangan,dan menikmati senja setiap detik,menit,jam dan menjadi bagian keindahan di mata setiap orang.
Kamu baru saja tinggal di kota batam ini,kota yang menjadi impian para pendatang untuk orang orang yang merantau mencari pekerjaan demi mendapatkan sesuap nasi dan menjamin masa depan yang cemerlang di bandingkan dikampung,kota batam ini seperti di umpamakan penghasil madu yang berlimpah sehingga banyak semut yang berdatangan,kota ini juga lumayan padat penduduknya,banyak berdiri bangunan bangunan yang berdiri megah,di kota ini banyak yang dapat kita jumpai,semuanya ada di kota ini,tetapi satu yang sulit di temukan di kota ini yaitu senja di sore hari,karna cahaya senja itu sudah di tutupi dengan bangunan bangunan yang tinggi yang seakan akan ingin mencakar langit ini .
Aku masih ingat ketika membawamu ke taman kolam ini untuk pertama kalinya. Jangan pernah lupakan bagaimana perkenalan kita untuk yang pertama kali. Ketika itu kamu adalah wanita ahli berkata-kata yang selalu merangkai cerita tentang senja. Sedangkan aku hanya bisa terdiam saat kamu mulai berkata kata tentang senja.
”Aku suka senja, apalagi jika melihat burung-burung terbang ke arah barat, seakan-akan rumah mereka adalah senja.”
”Tetapi, aku tidak begitu mengerti senja. Bagiku tak ada perbedaan antara sore dan malam, antara sisa-sisa cahaya siang dan datangnya malam.”
Apa kamu tidak pernah bermain di pantai di kota ini ketika sore hari? Pantai di kota ini cukup banyak dan pesona keindahanya pun sangat amat memanjakan mata, Ketika kamu melihat langit bergaris merah dan beberapa perahu berlayar lurus dan hanya tampak layarnya saja yang berkibar.. Seakan bersandar pada cahaya senja.”
”Tidak, aku hanya tahu pantai yang panas di kota ini, dan tidak ada pantai yang menajubkan di kota ini,lalu sore hari aku pulang untuk beristirahat.”
”Jadi, kamu tidak pernah melihat senja sama sekali di kota ini?”
”Aku bisa melihatnya dari foto-foto.”
”Foto-foto tidak hidup, semuanya diam,
”Kalau begitu berikan aku video yang merekam senja.”
”Tidak. Aku tidak punya. Aku saja jarang menikmati senja yang utuh. Kadang setahun dua kali, kadang setahun sekali, bahkan sering tidak sama sekali.”
”Lalu, di mana kamu bisa melihat senja yang utuh?”
”Aku hanya melihatnya ketika pulang ke rumah orangtuaku di kampung bukit tinggi, di sumatra barat. Di sana ada bukit luas yang jarak pandangnya sampai ke pantai disana hutan hutan masih sangat banyak,gedung gedung bertingkat hanya segelintir saja dan itu yang membuat senja akan sangat menerangi cahanya di kampungku, dan ketika sore tidak akan ada yang menghalangi pemandangan terbenamnya matahari, termasuk senja itu.”
Ah,aku tidak percaya apa katamu itu!
”Kalau begitu, aku akan membawamu ke suatu tempat di kota ini yang penuh dengan cahaya senja matahari walau kota ini sudah di penuhi dengan gedung gedung pencakar langit yang membuat orang orang tidak lagi bisa merasakan senja setiap harinya”.
”Apa? Bukankah tadi kamu bilang tidak pernah melihat senja?”
”Aku berbohong.”
DUA
Senja memang barang langka di kota batam ini. Gedung-gedung bertingkat dengan lampu terang telah mengalahkan sisa cahaya setelah tenggelamnya matahari. Belum lagi lampu kota menyinari jalanan di mana mobil-mobil berkejaran dengan waktu. Orang-orang di sini tak begitu peduli apakah matahari telah tenggelam atau bahkan terbit dari arah tenggelamnya. Becerita tentang senja hanya lelucon yang membuat senja itu tidak berarti lagi bagi setiap orang. Di kota ini sulit untuk merasakan senja yang utuh, hutan hutan sudah banyak yang di gunduli oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab, tidak berpikir akibatnya dari ulah mereka tersebut,bahkan hutan hutan yang seharusnya dil lindungi telah dijadikan perumahan mewah.
”Ke mana kita akan pergi?” ,aku sudah tidak sabar ingin melihat senja, apakah masih ada senja di kota industri seperti ini .
”Ya seperti janjiku. Melihat senja.” Pasti ada,akan aku tunjukan senja yang utuh,
”Jangan bercanda, di kota seperti ini mana ada tempat untuk melihat senja.”
”Kalau begitu biarkan aku bercanda, aku akan membawamu ke daerah ujung kota batam, sedikit terpencil, aku pernah sampai ke sana sewaktu berkeliling kota batam. Dan aku sampai di tempat itu menjelang terbenamnya matahari. Mungkin itu senja yang kamu maksud.”
Mobil melaju kencang, jalanan semakin sepi, hanya ada beberap pepohonan yang hanya ada di sekeliling, . Setelah sekitar satu jam perjalanan meninggalkan hiruk-pikuk kota, yang jarang juga kita rasakan hembusan udara yang segar di sore hari,ahirnya kita sampai juga di taman kolam, tepat menjelang malam.
”Gila! Ini benar-benar senja!” Kau berteriak kegirangan, menatap langit merah sedikit keemasan itu seolah tak berkedip, sementara sekeliling taman hanya berupa rerumputan, pohon, bunga-bunga, dan danau dan sepasang angsa yang hidup damai di tempat ini, ”Tetapi, mengapa sepi sekali? Apa tidak ada yang tertarik dengan pemandangan senja?”
”Setiap orang lelap dalam kesibukannya, tidak ada waktu untuk datang dan melihat senja yang seperti ini.” aku menjawab. Memang, seperti tak ada kehidupan di taman kolam ini kecuali sebuah rumah mungil di dekat jalan raya tempatku memarkir mobil, bisa jadi penghuni rumah itulah yang merawat taman ini dengan penuh keihklasan,seperti dalam dirinya terdapat jiwa yang telah terpaut dengan alam yang jarang kita jumpai orang sekarang ini. Seorang kakek dan ketiga cucunya yang kecil-kecil. Mereka tersenyum ketika kita melintasi pagar menuju taman.
Suasana menjelang malam yang sempurna, tetapi segala sesuatu yang terasa indah saat itu ternyata tidak berulang. Keesokan harinya kamu mengajakku pergi ke tempat yang sama dan aku pun selalu memberikan waktuku untuk mengantarmu melihat terbenemnya matahari itu tetapi tiba tiba Alangkah terkejutnya kita melihat puluhan orang bertumpuk di taman tersebut.
”Mengapa tiba-tiba banyak orang?” tanyaku heran. Aku menduga, gara-gara kita menikmati senja kemarin,”Entahlah, padahal aku hanya memberitahu beberapa sahabatku di sekolah bahwa ada senja di sini
Dugaanku meleset. Rupanya kabar ini menyebar, di antara puluhan orang itu aku memang sempat melihat beberapa gelintir kawan-kawanmu. Kalian bercakap-cakap, meninggalkanku untuk sementara.
”Bagus sekali ya! Ayo dipotret!”
”Direkam saja!”
Kebanyakan dari mereka hadir bersama kekasihnya, tetapi ada juga yang membawa anak-anak kecil, membiarkannya berlarian di jalanan penuh kerikil, mendekati sepasang angsa di danau, bermain air yang jernih dengan pantulan cahaya senja.
”Padahal aku ingin menunjukkan senja ini spesial hanya untukmu.” Aku sedikit berbisik ketika kamu sudah berada di dekatku.
”Aku juga tidak menyangka akan banyak orang datang ke sini. Tetapi, setidaknya ini bukti bahwa mereka masih mau untuk menikmati pemandangan senja. Ya, kan?”
Kamu menatapku dengan tersenyum, wajah putihmu yang teduh itu membuatku urung untuk kecewa. Walaupun sepertinya kamu tahu kekecewaan di wajahku yang murung.
”Kalau begitu aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, sekali lagi. Sesuatu yang spesial, dan aku yakin tak seorang pun bisa menirunya,” kamu berkata tiba-tiba.
”Apa itu?” ”Menjadi senja.”
“Apa .?”
TIGA
Bagaimana caranya menjadi senja. Apakah harus mengikuti burung-burung yang terbang ke arah terbenamnya matahari sambil memakai baju merah keemasan? Kamu yakin ingin aku menjadi senja?
”Tentu, aku yakin kamu dapat melakukannya,
otakku berputar keras seakan otak ini tak sanggub untuk berfikir lagi bagai mana cara aku untuk memenuhi keingginanya . Tidak mungkin aku bertanya kepada kawan-kawan geniusku di sekolah, pasti mereka semua menertawakanku.itu Pertanyaan paling konyol,yang pernah terucap dari mulut ku ini.
”Kalau berbuat untuk wanita yang realistislah, jangan sampai gila begitu.”
”Lihat saja, aku pasti bisa memenuhinya. Lihat saja.”
Pasti ada caranya, setidaknya, harus ada. Dan benar, kan? Beberapa jam menyendiri dalam kamar, akhirnya kulihat sesuatu yang berkilat itu, sesuatu yang memantulkan cahaya putih dari sinar matahari yang tak terhalang gorden jendela. Ya! Aku mendapatkannya, akhirnya aku mendapatkan cara untuk memenuhi keinginanmu,   ”Besok aku adalah senja,”
EMPAT
Angin sore menerpa deretan pepohonan  yang masih rimbun di taman ini,berbeda ketika aku barada di kota,tak satupun aku melihat pepohonan yang serimbun seperti ini,itu semua di akibatkan karna banyak berdiri gedung gedung ,perumahan,dan tempat hiburan yang membuat banyak lahan yang seharusnya di lestarikan tetapi di hancurkan demi memenuhi hasrat orang orang yang tidak berfikir kedepanya apa yang akan terjadi terhadap kota tercinta ini.
. Belum ada siapa pun di taman kolam ini Hanya sepasang angsa itu tengah memainkan ekor keduanya. Beberapa daun kering jatuh ke pangkuanmu, yang terbalut kaus putih dengan syal merah muda.
”Datanglah nanti ke taman kolam,aku akan menjadi senja.” Kamu membaca kembali pesan singkat yang kukirimkan pagi tadi. Lalu tersenyum. Kamu pasti bangga denganku.
”Bagaimana caranya?”
”Datang saja, nikmati cahaya merah setelah matahari terbenam, kamu harus yakin bahwa senja itu adalah aku.”
”Jadi, kamu tidak akan hadir menikmati senja bersamaku?”
”Tentu tidak. Bukankah yang menjadi senja adalah aku sendiri?”
”Bagaimana aku bisa tahu kalau itu kamu?”
”Aku akan membuat senja itu sedikit berbeda.”
LIMA
Senja masih akan hadir sekitar satu jam lagi, beberapa pasangan telah tiba dan mencari tempatnya masing-masing, semakin banyak orang berdatangan, jauh lebih banyak dari sebelumnya, bahkan ada yang membawa kanvas untuk melukis senja. Mereka antusias sekali menunggu. Taman kolam seperti menjadi tempat rekreasi dadakan, yang gratis. Dan tibalah saatnya, matahari perlahan membenamkan tubuhnya
Cahaya senja itu muncul, membentang merah lebih pekat, tidak bercampur dengan warna kuning keemasan. Memenuhi garis langit. Orang-orang pada kagum melihatnya .
”Hei, lihat, warnanya agak berbeda dari kemarin. Sepertinya lebih indah. Mungkin ini fenomena alam.”
”Cepat dipotret! Diabadikan!”
”Direkam saja sayangku. Mmmuach!” sepasang sijoli berciuman di depan senja yang spesial kuhadirkan untukmu. Sementara kulihat kamu terdiam dengan pemandangan senja itu, mungkin kamu sedang membandingkannya dengan senja yang kemarin kemarin yang kamu lihat bersamaku.
”Aku sudah melihat senja. Senja yang benar-benar berbeda.” Kamu mengirimkan pesan singkat untukku. Senyummu mengambang, tidak ada yang tahu bahwa senja itu adalah aku kecuali kamu.
”Bagaimana caranya? Beritahu aku. Biar besok giliran aku yang menjadi senja untukmu.” Pesan singkat yang lain kamu kirimkan lagi.
Orang-orang masih menatap dengan kagumnya, mereka mengambil kamera dan memotret setiap sudut senja itu. Ada pula yang benar-benar merekamnya, meminta pasangan bergaya di sepanjang taman yang berlatar warna merah senja yang langka
Senja itu semakin lengkap ketika burung-burung menuju ke arahnya, pemandangan yang nyaris sempurna, puluhan kamera mencipratkan cahaya, seperti suatu pertunjukan di atas panggung, orang-orang tak henti-hentinya melontarkan kalimat kekaguman, semakin ramai saja, seolah penduduk kota batam semuanya tumpah di taman kolam ini, hingga akhirnya beberapa dari mereka sadar, ada sekelompok burung hitam yang tak seharusnya ada di situ.
Para wanita wanita tersebut berteriak histeris,ada yang memeluk kekasihnya,ada juaga yang menaggis ketakutan,itu bukan senja ,tetapi itu darah,mungkin ini alam yang telah murka terhadap manusia yang tidak memikirkan kondisi alam yang telah rapuh.
“Kamu terus terdiam dan terus memikirkan apa maksud semua ini,dan kamu terus menunggu aku di taman kolam ini,menanti akan jawaban tentang semua ini’ .
 Karya : Hari Ramadhan Putra
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s